//
you're reading...
Movies

Movie Review: Pulau Hantu 3 [Indonesia|2012]

Rasanya waktu sudah berselang begitu lama sejak kali terakhir saya menulis review film Selimut Berdarah pada 2010 lalu hingga saat saya mendapatkan kembali hasrat itu sekarang. Sebuah keinginan untuk menyampaikan keprihatinan dan empati saya melalui opini kejujuran serta caci-maki terhadap film pribumi yang membuat citra film Indonesia dikenal sangat buruk oleh tuan rumahnya sendiri. Yah, sensasi menonton film-film dengan kualitas mengenaskan yang sejak setahun terakhir tidak saya dapatkan itu kembali saya rasakan tatkala menyaksikan Pulau Hantu 3 di penghujung akhir tahun 2011 ini.

Adalah Jose Purnomo dan komplotan Punjabi yang kembali menjadi dalang semua ini, tampil sebagai duo sutradara dan produser yang memutuskan untuk melanjutkan Pulau Hantu (2007) dan sekuelnya Pulau Hantu 2 (2008) dengan sebuah misi yang sama, meraup pundi-pundi kekayaan dengan menjual seksualitas dalam film. Apalagi ditambah kontes foto para pemain wanitanya dalam busana super minim yang lebih pantas digunakan untuk penghias setiap halaman majalah laki-laki dewasa daripada difungsikan sebagai bagian dari promosi menarik minat khalayak ramai atas film ini. But, what’s actually the point? Argh, kapan film Indonesia bisa maju dan tampil lebih baik untuk mengubah pandangan miring masyarakat Indonesia sendiri atas film-film karya sineasnya kalau masih saja ada sutradara dan produser yang berpikir seperti ini. Hanya memikirkan perut sendiri dengan menghadirkan suguhan komedi horror bernuansa dada dan selangkangan sebagai default theme tanpa pernah memikirkan kualitas.

Cerita dalam film ini kembali berputar pada Resor Pulau Madara yang kembali dibuka oleh pemilik baru, Patigana, dengan Nero, Kimo, Octa, dan Gaby sebagai pegawai baru resor tersebut. Kejadian aneh mulai dirasakan Nero sesaat setelah sampai di pulau, Ia yang merasa mengenali tempat itu lalu mendapat bisikan-bisikan yang memanggil namanya. Namun ketika sadar bahwa pulau tempat kerja barunya ini adalah juga pulau tempat teman-temannya terbunuh beberapa tahun sebelumnya, Nero sudah terhanyut akan kehadiran tamu-tamu resor, bahkan sang manajer resor, Monica, yang begitu cantik nan seksi serta kerap memakai bikini dan pakaian minim setiap harinya. Hingga sampai suatu saat kesenangannya bersama Kimo menikmati pengalaman ‘luar biasa’ itu terganggu oleh hilangnya satu per satu penghuni resor.

Saya memang belum pernah sama sekali menyaksikan dua film pendahulu franchise ini yang membuat saya benar-benar buta akan korelasi ketiganya. Namun berbekal pada apa yang dikatakan sang sutradara bahwa menyaksikan Pulau Hantu 3 tanpa pernah menonton prekuelnya tidak akan banyak berpengaruh pada tingkat pemahaman pada cerita, dengan begitu semangat saya memutuskan untuk tetap menontonnya. Dan ternyata memang benar, tidak ada suatu keharusan untuk mengetahui kisah awal Pulau Hantu, karena memang sesungguhnya plot cerita dalam film ketiga ini bukanlah sesuatu hal yang penting.

Baiklah, saya juga tidak mau munafik jika senang, gembira dan puas dengan adegan-adegan seronok dalam film ini. But hey, di sisi lain saya juga miris melihat bagaimana perempuan dieksploitasi habis-habisan di sini yang sekaligus mengingatkan saya akan review teman saya, @horrorpopcorn, tentang 30 hal yang ia pelajari setelah menonton Jenglot Pantai Selatan dimana pada poin 29 menyebutkan bahwa siapapun bisa main film asal bersedia diekspos (maaf) tetenya dan bisa berteriak. Dan saya setuju dengan argument (atau mungkin fakta) itu, karena bahwa sesungguhnya menonton Pulau Hantu 3 itu tak ubahnya seperti nonton film semi bokep yang menyuguhkan wanita-wanita seksi berbikini atau totally minim busana dengan dada berbagai ukuran yang tumpah kemana-mana lengkap dengan efek bouncing, juga ada ritual massage di tepi pantai, hingga sex scene di kolam dan ranjang yang semuanya dibalut dalam efek slow motion menghiasi hampir sepanjang 84 menit film diputar. GOD!

Maaf, terlalu banyak berbicara mengenai bikini saya sejenak lupa akan tema utama film ini, horror komedi. Namun menurut saya, sebenarnya Pulau Hantu 3 juga kurang layak disebut sebagai film horror, kenapa? Yah, cara menakut-nakuti Jose dengan mengagetkan penontonnya melalui formula hantu  narsis melintas atau menampakkan wajah jeleknya dan tangan-tangan usil sang hantu yang perlahan muncul atau menepuk pundak dan menyeret kaki korban lengkap dengan tata suara yg tiba-tiba keras itu adalah cara lama yang sudah basi. Tidak ada formula baru yang ditawarkan menyebabkan adegan menakut-nakuti ini malah berbalik menjadi bagian yang lucu dan patut ditertawakan, atau bahkan mungkin muncul suatu perasaan iba pada sang hantu karena harus menahan capek mangap di sepanjang film dan diperdaya sang sutradara untuk menyeret mengemasi sendiri korban-korbannya.

Dan seperti apa yang sudah saya sampaikan tadi, unsur komedi Pulau Hantu 3 sebenarnya lebih banyak tercipta karena kecacatan produksi alih-alih karena bagian yang sengaja dibuat untuk suguhan humor. Mulai dari dialog yang benar-benar dangkal, pun pada ekspresi muka dan tingkah pemainnya yang datar dan kaku seakan tanpa dosa even dalam keadaan genting sekalipun. Beruntung saya masih terhibur oleh cacat-cacat tersebut karena memang usaha untuk membuat penonton tertawa melalui comedy scene dalam film ini benar-benar gagal dan hanya berujung pada kesan garing atau jayus.

Di balik itu semua, sepertinya saya sedang mencium suatu gelagat aneh dari sang sutradara saat pemutaran perdana lalu yang tiba-tiba memberikan sebuah excuse dengan ekspresi terpukul saat memberitahukan perihal Lembaga Sensor Film (LSF) yang memotong film sebanyak 3 menit durasi. Entahlah, mungkin ini hanya sebuah curhatan kekecewaannya atas tingkah LSF yang dianggapnya sudah melangkah di luar batas karena film ini pun sesungguhnya secara terang-terangan telah dilabeli Dewasa. Namun melihat dari cara penyampaiannya yang dilontarkan dengan suara yg keras, saya yakin bahwa ini lebih dari sekedar itu. Ah sudahlah, toh dipotong 3 menit pun tidak mempengaruhi bagian penting isi cerita kan? Wait, emang ada ya? Kok bisa? Emang gak kemasukan pasir gitu? #opoiki

Credits:

Producer: Raam Punjabi

Director: Jose Purnomo

Writer: Jose Purnomo

Casts: Sinta Bachir, Abdurrahman ‘Adul’ Arif, Jenny Cortez, Boy Hamzah, Ricky Adi Putra, Reynavenzka, Laras Monca, Ayu Permatasari, Johanna, Amelia Alfiani, Grace, Fara Dhiba, Kadir.

About these ads

About ardnas20

a Design Technician who loves Movie, Music, and Photography...

Discussion

One thought on “Movie Review: Pulau Hantu 3 [Indonesia|2012]

  1. Hahahahaha…. Jd film ini penuh dengan payu dara toohh… Ini mah atuh film d tujukan buat pria doank yak, kan di suguhin (maaf) tete. Yg cw mana bisa menikmati itu kan. Gw seh ud yakin kl horror nya gk akan horror. Mana ada film horror yg dibalut seksualitas memberikan horror yg bagus. Thx review nya, cukup tau aja gw seh, hahahahaha…..

    Posted by Catra | December 30, 2011, 4:41 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 949 other followers

%d bloggers like this: