//
you're reading...
Movies

cin(T)a [Indonesia|2009]

Berawal dari kegelisahan sang sutradara, Sammaria Simanjuntak, mengenai perbedaan yang paling mendasar dalam kehidupan manusia, cin(T)a cukup berani diciptakan sebagai sebuah film yang mengangkat issue yang beredar di masyarakat Indonesia dan bisa dibilang cukup tabu untuk dibicarakan, Keyakinan. Sebuah pertanyaan pun timbul dalam benaknya dalam menciptakan film ini: “Kenapa Tuhan nyiptain kita berbeda-beda kalau Tuhan hanya ingin disembah dengan satu cara?”


Menceritakan tentang Cina, pemuda keturunan cina tapanuli beragama nasrani, pintar, tidak pernah gagal dalam hidupnya yang menentang kehendak orang tuanya untuk mengambil beasiswa kuliah di Singapore dan memilih menjadi seorang mahasiswa baru arsitektur ITB. Cina berusaha membiayai sendiri kuliahnya dengan mencoba beberapa pekerjaan sampingan, mulai dari menjadi tukang pijat refleksi hingga membantu kakak seniornya mengerjakan Skripsi.

Tersebutlah Annisa, seorang mahasiswa senior yang dibantu cina dalam mengerjakan tugas akhirnya. Diceritakan bahwa Annisa adalah seorang mahasiswi muslim yang sudah tiga kali gagal dalam tugas akhir karena aktifitasnya di dunia film, yang karena paras cantiknya membuat dirinya banyak yang mengagumi, ditambah dengan kepribadian Annisa yang suka murung. Berawal dari kebiasaan mengerjakan Tugas Akhir bersama inilah mulai muncul rasa cinta antar Cina dan Anisa, namun perbedaan keyakinan menjadi masalah yang serius dalam hubungan mereka.

Cin(T)a merupakan sebuah film indie,  berlatar kehidupan mahasiswa di Bandung pada tahun 2000 dimana kerukunan beragama saat itu diuji dalam hari raya Idul Fitri dan Natal yang dirayakan hampir bersamaan. Berlatar masalah keyakinan inilah, dalam film ini disuguhkan banyak sekali bukti nyata perbedaan-perbedaan agama lengkap dengan pemaparan diskusi yang dilakukan oleh Cina dan Anisa dalam memandang tuhan mereka masing-masing akan cinta kepada-Nya secara terbuka, berani dan frontal.

Dalam film ini juga disuguhkan cuplikan interview pada beberapa pasangan beda keyakinan, baik sahabat, pasangan yang baru bepacaran, menikah beberapa bulan, dan bahkan yang sudah berpuluh-puluh tahun dengan anak cucu mereka mengenai pandangan mereka mengenai cinta, keyakinan dan Tuhan masing-masing yang mereka sebut dengan sebutan berbeda namun menyatukan mereka. Cuplikan interview ini menurut saya mampu membuat nilai lebih pada film yang memang bisa dikatakan mengangkat tema cukup berat dan langka ini, sebagai contoh, referensi dan seolah menambah teka-teki untuk kita menebak jalan cerita dan penyelesaian film.

Mengangkat tema serius ternyata tidak membuat film ini menjadi berat dan susah untuk dikonsumsi, melainkan mengajak kita untuk masuk dan berada dalam situasi yang diciptakan dalam film dengan keyakinan yang kita anut dan menikmati setiap scene, dialog, dan masalah yang ditimbulkan. Apalagi didukung dengan penciptaan karakter Cina yang optimis namun kerap memperlihatkan sisi humorisnya sehingga mampu mengundang tawa.

Sisi musical film ini pada pengisian beberapa lagu soundtrack oleh Homogenic dan music scoring sebenarnya cukup mampu membuat film ini berjalan beriringan sesuai dengan alur, jalan cerita dan suasana yang ditampilkan dalam setiap scnenenya, terkesan romantis dan mampu mengoyak suasana hati penonton. Namun sayangnya, segi teknik penataan suara sepertinya masih butuh belajar lagi untuk menyuguhkan kualitas sound yang lebih baik. Hal ini terlihat dari beberapa dialog yang kurang bisa terdengar jelas dan malah terganggu oleh suara-suara bising sekitar.

Secara keseluruhan, cin(T)a berhasil memberikan suguhan menarik, sangat menghibur yang sarat penuh makna dan mampu membuka mata dan pikiran kita untuk tidak serta merta tutup mata dan angkat tangan mengenai perbedaan yang kerap memicu konflik di Negara ini. Selain itu, film ini juga mampu memberikan sebuah cerita cinta yang lain dan jarang untuk ditampilkan, dengan begitu rumitnya masalah dan konflik yang timbul namun tetap tidak meninggalkan sisi romatis membuat film yang meraih Piala Citra FFI 2009 untuk penulisan naskah terbaik ini benar-benar akan sangat sayang untuk dilewatkan.

Thesandsrate: 9.5/10

Director   : Sammaria Simanjuntak

Writers : Sally Anom Sari, Sammaria Simanjuntak

Casts : Sunny Soon (Cina), Saira Jihan (Annisa), Sahat Gultom (Tukang Bakso)

About ardnas20

an Instrument Designer who loves Movie, Music, and Photography...

Discussion

6 thoughts on “cin(T)a [Indonesia|2009]

  1. This is a good movie, sayang pengarapannya kurang manis..

    Posted by Lex dePraxis | August 9, 2010, 7:25 am
    • very good kalo menurut saya kk😀
      iya emang sih, masih ada beberapa kendala teknis penggarapan dalam film ini, mungkin juga karena ini film indie kali ya? CMIIW

      kemaren sempet diskusi jg sama sutradaranya, dia bilang sih sebenernya dia gak nyangka kalo respon terhadap film ini segitu bagus. dia jg cerita kalo emang film ini dikerjakan dengan budget yang seadanya dan dari tangan2 yang emang masih dibilang baru dalam film. bahkan promosi pun dengan dana yang seadanya😀

      eniwei, makasih udah mampir dan meninggalakan jejak di blog saya kk :shakehand

      Posted by ardnas20 | August 9, 2010, 7:58 am
  2. cakep banget reviewnya, secakep yg nulis…
    gw belom nonton nih😦

    Posted by raditherapy | August 9, 2010, 9:16 am
  3. Oh ya, saya baru post trailer Cin(T)a versi Inception! Coba cek deh di sini http://www.youtube.com/watch?v=DMJ3E6xopRM

    Posted by Lex dePraxis | August 12, 2010, 7:00 am
  4. Nice Review kang !! film nya Asik juga🙂

    film yang cukup berani mengangkat tema tentang perbedaan agama, dan memang beberapa tokoh fundamentalis mengkritik habis-habisan Film ini dan mengatakan bahwa Film ini mengajarkan kearah “kemurtadan”, loh ????

    tapi menurut saya film ini justru meluruskan hal tersebut lewat salah satu dialog yang diucapkan Cina “Istri Aku nanti harus lebih mencintai Tuhanku ketimbang Aku” (kalo gak salah kaya gitu dialognya), yang jelas dialog tersebut berusaha menyampaikan bahwa ‘jangan Pindah agama cuman lantaran kamu pengen menikahi seseorang’. agama itu keyakinan bukan komoditas yang bisa dijadikan mas kawin😀

    Intinya, ini salah satu Film indonesia terbaik menurut sayah, Idealis khas film Independent dan mengajarkan Filosofi-filosofi ringan yang secara Pintar disisipkan dalam dialog yang sederhana. keren lah🙂

    Posted by Kang Momod | August 16, 2010, 3:55 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: