//
you're reading...
Movies

AKU atau DIA? [Indonesia|2010]

Setelah sukses membesut Pencarian Terakhir (2008) sebagai debut perdananya di dunia perfilman Indonesia, Affandi Abdul Rachman kembali menawarkan sebuah kisah sequel Heart-Break.Com, sebuah film yang digarapnya pada 2009 lalu, dengan judul AKU atau DIA? yang masih tidak jauh dengan film pendahulunya untuk mengeksplor kisah patah hati, namun dituturkan dengan kocak.

Kisah film lanjutan ini sendiri masih seputar agen cinta “Heart-Break.com” dengan kasus-kasus patah hati yang memang menjadi ladang usahanya. Namun kali ini kisah terpusat pada penyelesaian kasus Novi yang diputuskan secara sepihak oleh kekasihnya, Dafi, setelah 4 tahun menjalani hubungan. Hal ini lantaran Dafi yang seorang pengacara muda berdalih ingin lebih fokus pada pekerjaannya setelah mendapatkan promosi untuk posisi partner dari Amara, pengacara seniornya, di Amara & Partners.

Karena begitu mencintai Dafi, Novi yang tinggal bersama Pipit, Wawan, dan Asep, saudara-saudara yang selalu menghibur dan membantunya melupakan Dafi, bertekad untuk mencari tau penyebab keputusan Dafi. Di tengah rasa putus asanya, secara kebetulan Novi mendengarkan siaran radio Heart-Break.com di mana Mbak Elza membahas kisah patah hati karena orang ketiga. Dari sini lah Novi kemudian menghubungi Mbak Elza untuk kemudian menjadi client HBDC dengan agen-agen pilihan mbak Elza, termasuk Rama sebagai Project Leader yang lama-kelamaan mulai terpecah perhatiannya antara menyelesaikan misi dan perasaannya terhadap Novi.

Tampil begitu mengesankan dari awal hingga akhir, film ini sukses membuat suguhan yang menghibur dan cerdas pada setiap scenenya dalam menyampaikan cerita. Ramuan Romantic-Comedy yang disajikan begitu jenius, terlihat pada penyediaan porsi drama percintaan Novi-Dafi-Rama dalam film ini yang dirasa pas dan tidak berlebihan. Begitu pula dengan sisi comedy yang ditampilkan lewat duo Ringgo-Omesh, chemistry antar keduanya terbangun begitu sempurna dan menghasilkan humor ringan nan segar yang mampu memaksa penonton untuk tertawa oleh tingkah konyol mereka.

Hal tersebut juga terjadi pada setiap aksi para agen HBDC dalam menjalankan misinya yang terlihat begitu brilliant, dengan disisipkan beberapa jokes kelakuan abnormal para agennya, semua itu membuat saya terkagum-kagum dengan cara eksekusi penyelesaian kasus percintaan dewasa yang memang tidak jarang ditemui di kehidupan nyata sehari-hari ini. Selain itu, kasus yang sebenarnya sederhana namun disampaikan dengan banyak karakter ini juga mampu membuat saya semakin menikmati dan penasaran untuk menebak-nebak setiap kejutan dan kelanjutan kisah yang akan dihadirkan, termasuk ending cerita yang cukup unpredictable dengan twist cerdas ala Affandi.

Jajaran pemeran utama yang tampil juga semakin memperkuat karakter yang dibawakan masing-masing. Lihat saja acting Julie Estelle yang semakin mantap, meskipun menurut saya sempat agak terlihat kaku di bagian awal, Rizky Hanggono yang terlihat cocok dengan karakter yang dibawakan, dan Fedi Nuril yang tampil berbeda dengan peran-peran yang pernah dibawakan sebelumnya, menjadi lebih “garang” dan tegas namun tetap dengan kerapuhan hati di baliknya. Di samping itu, film ini pun cukup adil dalam memberikan porsi untuk setiap karakter yang dilibatkan dalam film dengan durasi 97 menit (tentunya setelah dipaksa menyerah pada LSF pada beberapa menitnya) ini, karakter-karakter pembantu benar-benar diberikan kesempatan untuk menunjukkan perannya atau bahkan menjadi kunci penting di dalam cerita meskipun dengan porsi yang tidak sebesar karakter utama. Hal ini menunjukkan bahwa memang setiap karakter yang ada diciptakan bukan hanya sebagai figuran semata.

Meskipun sebagai sebuah sekuel, “AKU atau DIA?” menjadi film yang bisa dinikmati oleh siapapun (tentunya mengacu pada LSF yang meberikan rating “Remaja (Teenage)” untuk film ini), termasuk bagi orang-orang yang kurang beruntung seperti saya yang tidak sempat menyaksikan seri pertamanya. Hal ini karena film ini menawarkan sebuah cerita dan kasus yang lain dari kisah pendahulunya dengan satu benang merah HBDC yang juga dipaparkan secara singkat namun berhasil menyambungkan hubungan keduanya. Jadi tidak perlu khawatir atau takut tidak akan bisa mengikuti jalan cerita untuk yang belum pernah menyaksikan HBDC.

“AKU atau DIA?” menjadi suguhan yang sukses mengemas setiap elemen yang ada di tubuhnya untuk dapat menghibur para penontonnya. Cerita, acting, dan bahkan usaha menyelipkan iklan berikut cameo ke dalam film pun tereksekusi dengan baik tanpa meninggalkan kesan membosankan atau mengganggu. Sebuah film yang patut dan layak untuk dinikmati namun begitu sayang untuk dilewatkan, apalagi (besar harapan) jika memang kisah ini akan dilanjutkan dengan sekuel ketiganya, HBDC 3D mungkin🙂

The Sandsrate: 4/5

Credits:

Producer: Affandi Abdul Rachman

Director: Affandi Abdul Rachman

Writers: Affandi Abdul Rachman, Nataya Bagya

Casts: Julie Estelle, Rizky Hanggono, Fedi Nuril, Aline Adita, Sophie Navita, Lukman Sardi, Verdi  Solaiman, Shara Aryo, Alex Abbad, Yama Carlos, Edo Borne, TJ, Ringgo Agus Rahman, Ananda Omesh

About ardnas20

an Instrument Designer who loves Movie, Music, and Photography...

Discussion

5 thoughts on “AKU atau DIA? [Indonesia|2010]

  1. dear Ardnas

    Terima kasih unuk Reviewnya yang super detail…. saya terharu jadinya bisa sampai ditulis serapih ini…. Semakin membuat SEMANGAT dalam berkarya!!!!!

    heart-break 3D??? hmmmm……. coba nanti dipikirkan lagi… hehehehheeehe

    Cheers

    Affandi Abdul Rachman

    Posted by Affandi Abdul Rachman | November 2, 2010, 1:24 am
    • wah ternyata si empunya film juga mampir di sini *tersanjung, terharu trus pingsan*

      Sama-sama bang, terima kasih juga udah disempatkan mampir dan meninggalkan jejak, ditunggu karya-karya berkualitas selanjutnya😀

      HBDC 3D bukan hal yang mustahil, kan? apalagi udah ada kameranya, tinggal mengeksekusi tuh, hehehehe

      oiya, ditunggu jg dh undangan untuk yang 5 ekslusif itu, atau yang 200 juga boleh, hehehehe *ngarep tapi serius*

      Posted by ardnas20 | November 2, 2010, 4:35 am
  2. wah, beneran ya empunya film nongol??? wawww!!😀

    ternyata film-nya cukup menarik kalo diulas. sayangnya, saya suka keburu ilfil duluan kalo liat poster film2 indonesia. kayanya yang dijual ya itu, tampang doang.
    yang update ya review filmnya, jadi kalo rame bisa keburu nonton juga😀

    Posted by rifqie | November 12, 2010, 11:18 am
    • hey, coba perhatikan lebih dekat lagi tante. sayang ni perfilm-an indonesia kalo penontonnya gini semua :(:(:(
      gak semua film indo jelek atau cm jual tampang, dan layaknya pepatah “jangan pernah menilai buku dari sampulnya” *halah

      Posted by ardnas20 | December 29, 2010, 8:02 am
  3. tapiiiiiii…kalo sampulnya aja udah bikin ilfil gimana tertarik nontonnya coba?? -_-

    makanya, saya apresiasi review film kaya di blog ini, jadi tau kontennya dan (agak) tertarik utk nonton. terus berkarya! hehehehe

    Posted by rifqie | December 29, 2010, 8:12 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: