//
you're reading...
Movies

Susah Jaga Keperawanan di Jakarta [Indonesia|2010]

 

Urbani Seksi, sebuah proyek film dua tahun lalu, tepatnya tahun 2008, mestinya menjadi debut film seorang Joko nugroho sebagai sutradara di industri perfilman Indonesia. Namun dengan dalih issue RUU APP (Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) sedang hangat-hangatnya dibicarakan saat itu, ditambah alasan produser dengan pernyataannya bahwa masih ada hal-hal yang perlu dibenahi dalam rangka penyempunaan film ini dengan melakukan re-take beberapa scene, juga alibi yang membawa nama Masayu Anastasia sebagai aktris utama film tersebut dengan kehamilannya, membuat proyek film ini ditunda rilis hingga dua tahun lamanya sekaligus mengubah judul menjadi Susah Jaga Keperawanan di Jakarta.

Cerita film ini berpusat pada karakter Sri Sundari atau yang akrab depanggil sebagai Srinthil (Masayu Anastasia), seorang gadis desa dengan mimpi hidup bahagia sebagai aktris dan tinggal di kota metropolitan, Jakarta. Namun sayang, saat mengutarakan keinginannya itu kepada orang tuanya, Srinthil disambut penolakan keras dari ayahnya dengan kemarahan berapi-api, apalagi sang ayah rupanya telah mempunyai rencana tersendiri untuk menjodohkan Srinthil di keesokan harinya.

Bersikukuh dengan keinginannya untuk merantau ke Jakarta, Srinthil yang kemudian mengajak kedua teman sekaligus sahabat baiknya, Kunil (Sarah Rizkya) dan Centini (Aulia Sarah) nekat berangkat ke Jakarta dengan “menumpang” mobil sayur tepat di hari dia akan dijodohkan. Sesampainya di Jakarta, mereka bertiga kemudian bertemu dengan Berta (Indra Birowo), wanita jadi-jadian yang berprofesi sebagai Germo dan Jiun (Rifki Balwel), seorang pramu hotel dengan pekerjaan sampingan juga sebagai “supplier” gelap, yang mengajukan penawaran kerja sama dalam sebuah bisnis menjadi “Lady Escort” (Srinthil dan kedua temannya menyebut istilah ini sebagai Lady Escroot). Singkat kata ketiga gadis desa ini kemudian menyetujui penawaran ini namun dengan satu sayarat, mereka harus tetap perawan.

Pengubahan judul film dari Urbani Seksi menjadi Susah Jaga Keperawanan di Jakarta mestinya tidak perlu dilakukan pada film ini mengingat cerita yang ditawarkan dengan segala konflik yang ditimbulkan sebenarnya lebih mengarah pada cerita tiga gadis urban untuk bertahan di hiruk-pikuk kota metropolitan namun sama sekali tidak menunjukkan kalau menjaga keperawanan di Jakarta itu susah. Hal ini bisa dilihat dari begitu mudahnya perjuangan mereka dalam mendapatkan “pekerjaan” dan segala keterkaitannya dengan mempertahankan keperawanan di Jakarta.

Film ini tampil cukup menghibur dan menjanjikan di sekitar 30 menit awal film diputar dengan jokes yang sempat membuat saya tersenyum dikala menyaksikannya dan juga pengolahan gambar yang cukup menarik. Terlihat begitu kreatif dan eye-catching pada penggunaan kartun ala “Jomblo” pada scene migrasi Srinthil dkk ke Jakarta atau juga opening film yang dikemas ala “Arisan”, namun hal itu tiba-tiba hilang begitu saja memasuki bagian pertengahan hingga akhir film. Tidak ada lagi jokes maupun kartun pengocok perut yang ditampilkan, pondasi yang telah dibangun di awal pun mulai goyah atau bahkan ambruk dengan dihadirkannya konflik yang coba dibangun.

Pembangunan konflik yang kurang matang ini membuat klimaks film terasa hambar dan terkesan hanya lewat begitu saja. Usaha menyisipkan romance/drama sebagai bagian dari konflik pun bisa dibilang gagal dalam eksekusinya, terasa garing, aneh, dan tidak mengena sampai sasaran. Hal ini membuat film ini seperti halnya film dengan tanpa makna atau pesan apapun, pointless dan berlalu tanpa perlu diingat, jangankan di setiap detailnya untuk garis besar filmnya saja mungkin akan sukar.

Ketidaksempurnaan pemotongan gambar dan kemudian menyusunnya secara tak beraturan pun bisa ditemui di film ini dan sukses menambah poin kehancuran film dengan durasi 80 menit ini. Lihat saja satu scene dimana Srinthil, dkk dikejar Polisi dalam sebuah patroli namun kemudian disambung dengan scene dimana mereka tiba-tiba ditemui di dalam sebuah bar sedang asik ber-dugem-ria. Coba bayangkan, dimana letak korelasi dua gambar yang disusun secara berurutan tersebut?

Pembagian porsi karakter dan akting di sini terjadi sebuah ketimpangan yang begitu amat dahsyat. Wajar memang peran Srinthil, Centini, dan Kunil mendapatkan porsi yang berlimpah dengan kualitas akting terbaik dari Masayu Anastasia namun harus mengabaikan Aulia Sarah dan Sarah Rizkya, mengingat memang Urbani Seksi, ups, maksud saya Susah Jaga Keperawanan di Jakarta memang menceritakan tentang mereka. Ditambah penampilan mengagumkan Bertha di awal film yang memperkuat film ini dengan komedinya, meskipun pada akhirnya pun akan ditemui kebosanan yang menuju puncaknya pada karakter ini di bagian akhir film. Dan satu hal yang membuat saya kasihan pada satu karakter yaitu Bapak Srinthil,  setelah total berakting marah-marah di awal film dengan segala ke-lebay-annya, karakter ini coba dimunculkan kembali di bagian akhir film membawa misi haru-biru dan mengoyak perasaan. Namun apa yang terjadi? Usaha ini sukses menjadi usaha yang gagal total, apalagi ditambah ketidak-jelasan dan ketidak-masuk-akalan penyelesaian dari scene itu yang berakhir seolah karakter ini benar-benak tidak berguna sama sekali.

Keterlambatan perilisan film hingga 2 tahun pun berdampak pada issue mengenai hal-hal yang berkembang di masyarakat terasa sudah basi dan tidak layak untuk ditampilkan dalam konteks film yang sebenarnya tidak difokuskan pada “zaman” itu, hal ini membuat Susah Jaga Keperawanan di Jakarta lagi-lagi menjadi suguhan yang kurang tepat sasaraan hingga berdampak pada kebosanan dan keinginan untuk WO sebelum film selesai diputar. Sungguh sayang memang,  kesiapan materi yang tidak didukung oleh eksekusi brilian membuat film ini berakhir dengan kata gagal membawa misinya untuk menghibur setiap penontonnya. Dengan ini semua, pada akhirnya yang tersisa hanyalah sebuah pertanyaan manis mengacu pada pengalaman saya saat menonton film ini: So, Susah mana menjaga keperawanan di Jakarta atau mencari parkiran motor di Epicentrum XXI?

The Sandsrate: 1/5

Credits:

 Director: Joko Nugroho

 Casts: Masayu Anastasia, Aulia Sarah, Sarah Rizkya, Indra Birowo, Rifki Balwel, Tessy Srimulat

About ardnas20

an Instrument Designer who loves Movie, Music, and Photography...

Discussion

3 thoughts on “Susah Jaga Keperawanan di Jakarta [Indonesia|2010]

  1. akhirnya update blog juga nih om satu ini
    ada rekomendasi film bulan desember 2010?🙂

    Posted by rifqie | December 9, 2010, 6:32 am
    • huehehehhe, setelah tidur panjang sebulan ya?
      maklum, tau sendiri kan kerjaan kita gimana di kantor😮

      oiya, rekomendasi film bulan Desember, BURIED. itu film wajib tonton, tapi ati2 sesek napas, huehehehehe

      Posted by ardnas20 | December 29, 2010, 7:56 am
  2. kalo baca sinopsisnya, kayana film Buried ini terkesan membosankan: ngeliat orang yang berusaha keluar dari kuburan. Bagaimana, Bapak reviewer?

    Posted by rifqie | December 29, 2010, 8:14 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: