//
you're reading...
Movies

Belkibolang [Indonesia|2010]

Dikemas dalam bentuk omnibus film, Belkibolang mengangkat kehidupan malam kota metropolitan Jakarta dengan sembilan cerita oleh sembilan sutradara. Bercerita tentang berbagai sisi kehidupan kota jakarta di malam hari dari berbagai sudut pandang dan situasi oleh beberapa kalangan dengan profesi beragam. Mulai dari seorang karyawan, tukang ojek, remaja, ibu rumah tangga, sopir taksi, hingga Pelacur yang dengan lugas dipaparkan dalam kisah yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh kita.

Titien Wattimena menulis semua skenario sembilan cerita pendek yang kemudian dieksekusi oleh Agung Sentausa, Ifa Isfansyah, Tumpal Tampubolon, Rico Marpaung, Anggun Priambodo, Azhar Lubis, Wisnu Surya Pratama, Edwin, dan Sidi Saleh ke dalam Sembilan film pendek sarat akan makna dengan pendekatan yang berbeda di setiap film namun dengan satu benang merah, kehidupan Kota Jakarta di malam hari. Titien menghadirkan setiap detil kota Jakarta yang sesungguhnya sebagai wujud kecintaannya pada kota ini, dimana akan ditemui beberapa elemen-elemen pendukung keberadaan dan ciri khas ibu kota yang lazim ditemui.

Judul Belkibolang sendiri diambil dari sebuah singkatan akan rambu lalu lintas yang pernah ada dan biasanya bertengger di perempatan kota Jakarta, Belok Kiri Boleh langsung. Hal ini dimaksudkan untuk mengenang rambu lalu lintas yang saat ini sudah semakin jarang ditemui di Jakarta, tentunya dengan sedikit penggubahan menjadi Belok Kanan Boleh Langsung menurut versi mereka.

Payung (Umbrella)

Belkibolang dibuka dengan penampilan Dwi Sasono di Payung yang dikerjakan oleh Agung Sentausa. Menceritakan tentang seorang karyawan kebanyakan yang pulang larut malam dalam keadaan lelah. Malam itu hujan turun dengan derasnya, ia hanya asik menghabiskan malam itu dengan kesendiriannya tanpa peduli apapun yang terjadi di sekitarnya sampai ia sadar akan kehadiran seorang gadis kecil yang telah menemaninya menyusuri jalanan dengan payung kecilnya. Pertemuan ini merubah malam kelam lelaki itu menjadi sedikit berbeda. Segmen ini dikemas dengan begitu bermakna, disajikan dengan visual luar biasa pada cahaya lampu kuning di malam hari yang dibalut dengan basahnya air hujan dengan kesan kehangatan di balik dingin yang menghampiri.

Percakapan Ini (Chit Chat)

Ifa Isfansyah terinspirasi pada pengalamannya membaca komik jepang yang seharusnya dibaca dari belakang namun dibacanya dari depan yang ternyata semuanya tetap sama saja tanpa mengurangi makna cerita. Menceritakan sebuah percakapan yang tak berawal maupun berujung oleh omen, seorang koki dengan tetangganya mengenai pasangan, hubungan, pilihan, hingga rasa keibuan. Dieksekusi dengan formula langka yang begitu menarik nan cerdas ditambah acting memuaskan Desta dan Marsha Timothy sebagai tetangga yang suka ber-gossip-ria menjadikan segmen ini sebagai salah satu favorit saya.

Mamalia

Mamalia mengusung sisi kiminal sebagai sebuah kemungkinan yang yang bisa saja terjadi di ibu kota karena kecerobohan. Tumpal Tampubolon mengungkapkannya secara berani melalui cerita seorang wanita yang sedang mencari ojek di suatu malam, sampai pada suatu ketika terjadilah kesepakatan jual-beli jasa untuk mencari sebuah alamat bersama yang berujung pada kegembiraan di dua sisi berbeda. Satu lagi, sisi humor yang seolah terselip dari akting pemain menjadi salah satu nilai lebih dalam segmen ini.

Planet Gajah (Planet Elephant)

Keindahan kota Jakarta malam hari di-ekspose habis-habisan di segmen ini. Dengan mangambil setting jalan raya dan beberapa taman hiburan malam lengkap dengan cahaya lampu kuning membuat Planet Gajah menjadi salah satu segmen dengan visual terbaik dari yang lainnya. Akan ditemui juga kreasi Rico Marpaung yang mengeksekusi beberapa part segmen ini dengan scene freeze dan slow-motion ditambah penyusunan dialog dan scene kejadian saat ini yang dikemas dengan begitu mengesankan. Planet Gajah sendiri membawakan cerita drama romantis, dimana terdapat sepasang pemuda-pemudi yang gemar bereksperimen dengan game-game gila kreasi mereka sebagai usaha untuk melupakan sejenak sekaligus bertindak atas ketakutan akan sebuah ramalan mengenai kebersamaan mereka di malam itu.

Tokek (Gecko)

Sudah bukan rahasia umun kalau di Jakarta terdapat sebuah “tradisi” pemadaman listrik bergilirir oleh PLN, hal inilah yang dimanfaatkan Anggun Priambodo dalam menciptakan Tokek. Kesabaran, keluh kesah, dan hal-hal apapun yang bisa dilakukan selama masa pemadaman itulah yang menjadi senjata segmen ini, apalagi tingkah konyol Edwin yang berperan sebagai korban pemadaman bergilir dalam film ini cukup ampuh mengocok perut. Anggun juga mengangkat “fenomena” sinetron dalam TV nasional secara real di segmen ini, disuguhkan di bagian pembuka selayaknya opening sinetron lengkap dengan soundtrack dan cast yang sinetron banget (baca: mendekati alay). Yah, bisa dikatakan bahwa Tokek sukses menjadi suguhan yang memberrikan cerita paling mendekati kehidupan kalangan menengah ke bawah di kota Jakarta.

Peron

Peron menjadi segmen yang meyuguhkan tata musik terbaik dalam omnibus ini, hampir di seluruh bagian segmen karya Azhar Lubis ini menjadikan musik pengiring sebagai nyawa utama film. Menceritakan tentang seorang mahasiswa yang dalam kesehariannya selalu asik dengan musik-musik yang didengar melalui iPod-nya di sebuah peron stasiun kereta api sembari menunggu kereta api, sampai pada suatu saat ipodnya rusak dan membuatnya harus mendengarkan suara-suara di sekelilingnya yang tidak pernah ia dengar sebelumnya sekaligus suatu hal unik di depan matanya yang membuatnya mulai berfantasi. Selain menyuguhkan tata musik yang sempurna, Peron juga membawa konsep dan ide cerita unik yang disuguhkan dengan dialog minim penuh makna.

3ll4

Setelah tampil begitu mengesankan dan mencuri perhatian saya melalui Minggu Pagi di Victoria Park, Ella Hamid kembali  menunjukkan kemampuan akting luar biasanya di segmen ke tujuh Belkibolang, 3LL4. Berperan sebagai Ella, seorang pelacur asal Surabaya yang hendak pulang ke kampung halamannnya di malam H-1 lebaran. Malam itu, ella memustuskan untuk masih “berjualan” di warung bebek panggang Madura tempat sahabatnya demi membahagiakan orang tuanya di detik-detik sebelum kepulangannya. Segmen ini menjadi salah satu segmen favorit saya bukan hanya karena hampir keseluruhan dialog dilafalkan dalam bahasa jawa dan Madura (I am Javanese), melainkan juga karena sisi natural dan apa adanya seorang pelacur yang ditawarkan Wisnu Surya Pratama, yang juga berperan sebagai sang tukang bebek panggang, berikut karakter kepolosan dan keluguan Ella yang dibawakan begitu alami dan sempurna hingga mengundang tawa sepanjang segmen diputar, terutama pada dialog ella (in Javanese): “yo tak dungakno bebek-e samean ndang payu, tapi samean yo dungakno aku ben kimpetku iki yo cepet payu.”

Roller Coaster

Edwin mengeksplorasi sisi adrenalin selayaknya berada di wahana “Roller Coaster” yang membuat jantung berdegup kencang dalam segmen ke delapan ini melalui cerita sepasang sahabat, laki-laki dan perempuan yang telah bersahabat sekian lama, melewati begitu banyak ujian bersama, mengetahui setiap hal dari yang kecil maupun besar di antara keduanya, namun selama itu mereka tidak pernah melihat ketelanjangan masing-masing. Proses menelanjangi satu sama lain inilah yang ditawarkan kali ini, ketegangan dengan sedikit humor yang tidak sengaja terselip dari sebuah ide gila yang bahkan mungkin tak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya membuat cerita ini menjadi begitu menarik untuk diikuti dari awal hingga akhir.

Full Moon

Segmen terakhir dalam omnibus Belkibolang adalah Full Moon atau Bulan Purnama oleh Sidi Saleh. Namun dalam pengerjaannya, Full Moon adalah yang pertama dikerjakan dan berlatar sekaligus dieksekusi pada malam tahun baru 2010 lengkap dengan hingar bingar dan riuh warga Jakarta yang merayakannya. Cerita dalam segmen ini dibungkus selayaknya berada di satu level kedewasaan yang lebih tinggi dibandingkan segmen lain, menceritakan tentang seorang supir taksi yang tetap mengejar setoran di malam tahun baru dengan suatu keinginan terpendam yang ingin ia utarakan kepada istrinya yang ia bawa ikut serta bersamanya di malam itu. Segmen ini berhasil membawa emosi kejengkelan, kekesalan, bahkan rasa iba atas apa yang dirasakan sang supir bersama penumpang yang masuk silih berganti ke dalam taksinya, hingga ulah istrinya di malam itu yang bercampur aduk dengan keinginannya yang pada akhirnya ia lontarkan tepat di malam pergantian tahun.

Pada akhirnya, Omnibus yang juga akan diputar di Rotterdam Film Festival dan Hongkong Film Festival pada maret 2011 ini berhasil menjadi sajian yang menghibur dengan begitu banyak latar belakang cerita, style serta formulasi humor dan drama yang beragam namun tetap konsisten pada benang merah Malam Jakarta itu sendiri.

About ardnas20

an Instrument Designer who loves Movie, Music, and Photography...

Discussion

4 thoughts on “Belkibolang [Indonesia|2010]

  1. pingin nonton uy😦

    Posted by pupud | February 16, 2011, 5:18 am
    • domisili dimana kk?
      kl di jakarta sih kemungkinan basih banyak chance buat bisa nonton. kl gak salah dlm waktu dekat diputer di sosiologi UI deh, cuma lupa tanggalnya. trus ada jg di KASKUS Rooftop movie nite hari 3. (ini bukan comment berbayar, huehhehe)

      oiya, dulu mbak titin sempet ngomong jg sih, kl mereka lagi bikin agreement sama blitz, gatau deh jadinya. semoga aja jadi diputer reguler di blitz.🙂

      Posted by ardnas20 | February 17, 2011, 12:48 am
  2. wah, tidak (belum) diputar di bioskop ya,om?
    resensi yang bagus btw🙂

    Posted by rifqie | February 18, 2011, 9:00 am
  3. It’s appropriate time to make a few plans for the future and
    it’s time to be happy. I have read this submit and if I may I
    want to recommend you some attention-grabbing issues or
    tips. Perhaps you could write next articles relating to
    this article. I desire to read even more issues about it!

    Posted by what is best carpet cleaner | August 7, 2014, 10:19 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: