//
you're reading...
Movies

Perempuan Kedua [Indonesia|1990]

Satu hal yang terpikirkan dalam benak saya ketika mendengar nama pasangan Sophan Sophiaan dan Widyawati adalah bahwa disana ada sebuah rumah tangga harmonis yang dibina oleh salah satu pasangan paling romantis di dunia dengan cinta yang kekal dan tak terpatahkan bahkan hingga maut memisahkan mereka. Namun apa yang terjadi jika ternyata ada perempuan kedua di antara mereka?

Tak pernah terpikirkan oleh saya jika pasangan artis ini diuji aktingnya dalam sebuah film benar-benar sebagai apa adanya mereka, sepasang suami-istri yang telah menjalin rumah tangga harmonis nan sempurna selama 14 tahun lamanya. Seakan memberikan tantangan untuk keutuhan rumah tangga Sophan Sophiaan-Widyawati, Ida Farida menghadirkan Perempuan Kedua di tahun 1990. sekilas akan mudah memang bagi pasangan ini untuk memerankannya, tapi apakah memang akan begitu mudah?

Menceritakan tentang Dr. Yanuar, seorang dokter dan juga suami yang dikenal sangat setia kepada Rani, SH, istrinya yang rela mengorbankan karir hukumnya demi keutuhan keluarga mereka. Kesetiaan Yanuar akan Rani sudah diakui oleh teman-teman dokternya di kalangan rumah sakit tempat Ia kerja, begitupun ketenteraman rumah tangga mereka yang dijadikan teladan dan contoh bagi orang-orang di sekitarnya. Namun tak jarang pula godaan datang menyapa Yanuar yang tidak terlatih untuk berbohong melalui obrolan-obrolan ringan antar sesama dokter yang memang gemar bermain simpanan maupun pasien-pasien cantiknya, sampai pada suatu saat datanglah Lia dan Patricia, dua pasien perempuan Yanuar yang mengubah segalanya.

Perselingkuhan sebagai salah satu masalah krusial rumah tangga menjadi nyawa utama di film ini. Memberikan pengertian secara mendalam terhadap suatu perilaku penghianatan berkedok selingkuh, Perempuan Kedua melakukan penjabaran mulai dari bagaimana keinginan selingkuh itu muncul dari benak seorang makhluk bernama manusia, sebuah proses selingkuh itu sendiri lengkap dengan apa yang dirasakan pada kedua belah pihak pelaku dan korban perselingkuhan, hingga efek dan akibat yang timbul dari tindakan yang banyak dikecam kaum hawa tersebut.

Berjalan mulus di awal membawa manisnya cinta dalam rumah tangga hingga menuju pertengahan dengan sebuah godaan akan hadirnya kenikmatan berselingkuh, perempuan kedua kemudian seakan mulai menemui begitu banyak kerikil-kerikil tajam dan batu sandungan mendekati akhir. Di bagian inilah efek selingkuh mulai muncul ke permukaan dengan masalah bertumpuk yang datang begitu bertubi-tubi plus beberapa kejutan-kejutan di bagian penyelesaian akhirnya.

Namun sangat disayangkan memang bagi saya yang baru menyaksikan film ini di tahun 2011 (film ini diputar di Kineforum Dewan Kesenian Jakarta dalam peringatan Bulan Film Nasional 2011: Sejarah Adalah Sekarang 5) disaat saya yang sudah muak dengan gempuran sinetron akhir-akhir ini dan beberapa film asal-asalan indonesia yang bisa dibilang menyontek formula film ini sebagai prototype mereka. Lihat saja pada pembangunan konflik yang begitu banyak dan menimbulkan kesan berlebihan, pun pada penyelesaian yang berakhir klise, beraroma klasik, hingga berujung membosankan. Hal inilah yang membuat 95 menit durasi film ini terasa lambat dan menimbulkan kesan seakan saya sedang menonton FTV atau sinetron murahan di rumah, apalagi dilengkapi dengan logo salah satu televisi swasta yang dengan kokohnya muncul di pojok kiri atas di materi film ini sukses menambah kesan sangat televisi pada film yang sebenarnya tidak berdosa ini.

Namun begitu, menikmati film ini tidak akan lepas dari menikmati akting para pemainnya, sudah sangat tidak bisa diragukan lagi akting sekelas dewa oleh pasangan Sophan Sophiaan, yang sudah makan asam garam dunia perfilman di kala itu, bersama istrinya, Widyawati, yang jika dilihat dari segi penampilan ternyata tidak berubah sedikitpun pada tatanan rambutnya jika diperhatikan sampai detik ini. Selain itu, kehadiran Deddy Mizwar di film ini dan Novia Kolopaking muda yang tampil begitu mengejutkan dengan memerankan karakter Lia sebagai pelengkap kualitas akting jajaran pemainnya yang memang patut diapresiasikan lebih serta paling tidak menyelamatkan Perempuan Kedua dari kesan negatif yang sempat timbul sebelumnya dari orang-orang dari generasi abad 21 seperti saya.

The Sandsrate: 3/5

Perempuan Kedua | 1990 | Sutradara: Ida Farida | Penulis: Mira W. | Pemain: Widyawati, Sophan Sophiaan, Ida Iasha, Zainal Abidin, Novia Kolopaking, Deddy Mizwar, Bella Esperance, Laila Sari, S. Bono, Khalik Noor A. Nasution, Harry Capri, Vivi Samodro, Henky Solaiman.

About ardnas20

an Instrument Designer who loves Movie, Music, and Photography...

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: