//
you're reading...
Movies

? [Indonesia|2011]

Sudah bukan hal baru lagi jika sebuah film mengangkat sebuah issue apapun yang beredar di masyarakat, entah itu politik, ekonomi, pemerintahan, kriminalitas, dan bahkan masalah krusial sekelas keyakinan atau agama pun selalu menjadi hal yang menarik untuk bisa dijadikan sebuah film. Sebut saja masalah perbedaan agama yang berbalut kisah cinta dalam cin(T)a (Sammaria Simanjuntak, 2009) dan 3 Hati, Dua Dunia Satu Cinta (Benni Setiawan, 2010), atau juga sebuah film pendek yang juga menyoroti kisah cinta beda agama dan etnis, CINtA (Steven Facius W., 2009). Seolah tampil melengkapi kehadiran-kehadiran film pendahulunya tersebut, “?” (Tanda Tanya) muncul menawarkan sesuatu yang lebih berani dengan masalah yang lebih kompleks dengan melibatkan tiga agama besar di Indonesia dan juga ras keturunan.

Arti kompleks di sini adalah bahwa film terbaru karya Hanung Bramantyo ini menawarkan tema masalah yang bisa dikatakan lebih rumit dari film-film dengan tema sejenis yang telah saya sebutkan di atas. Yah, dengan berbekal beberapa true event terkait masalah agama yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir seperti penusukan pastur oleh orang tak dikenal, bom di malam natal, hingga perusakan rumah makan yang dianggap menentang syariat agama, Hanung meramu “?” menjadi sebuah kisah sarat akan pesan akan indahnya keberagaman dengan juga menambahkan bumbu cinta ke dalamnya sebagai nyawa utama film.

Bersama penyutingan sempurna Yadi Sugandhi (Minggu Pagi di Victoria Park) yang ampuh memanjakan mata di sepanjang film dan tulisan Titien Wattimena (Belkibolang), Hanung memaparkan kompleksitas masalah film ini ke dalam tiga keluarga yang benar-benar berbeda dari latar belakang termasuk agama mereka. Ada keluarga Soleh (Reza Rahadian), seorang muslim taat dengan istri solehah, Menuk (Revalina S. Temat). Kemudian Rika (Endhita), seorang Janda dengan satu anak, Abi (Baim) yang baru saja berpindah keyakinan dari seorang muslim menjadi seorang Katolik. Rika dekat dengan Surya (Agus Kuncoro Adi), seorang pemuda Muslim yang juga sekaligus aktor yang hanya mendapatkan peran-peran kecil di setiap filmnya selama 10 tahun karirnya. Dan yang terakhir adalah keluarga Tan Kat Sun (Hengky Solaiman) dan anaknya Ping Hen/Hendra (Rio Dewanto) sebagai pengusaha resto masakan Cina yang tidak halal.

Diceritakan bahwa ketiga keluarga ini saling berhubungan satu sama lain dengan hubungan yang bisa dikatakan cukup rumit. Terletak di sebuah perkampungan kecil di kota Semarang dimana terdapat Masjid, Gereja, dan juga sebuah Wihara di sana, Soleh yang di awalnya adalah seorang pengangguran dalam usaha mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya bersama Menuk. Digambarkan pula perilaku Soleh yang mulai depresi dengan kesehariannya dimana dia sendiri menganggap dirinya bukanlah sosok suami yang tidak bisa membahagiakan istrinya lantaran statusnya sebagai pengangguran.

Keluarga Soleh terhubung dengan keluarga Tan Kat Sun melalui Menuk yang berjilbab bekerja sebagai pramusaji di restoran keluarga yang telah dirintis bertahun-tahun itu. Dalam mengolah bisnis restonya, Tan Kat Sun sangat memperhatikan lingkungannya. Dia memisahkan antara yang halal dan haram bukan hanya makanannya, tapi juga bahkan alat masaknya serta memberikan libur hingga H+5 Lebaran sebagai wujud toleransinya terhadap masyarakat di sekitar yang beragam, termasuk karyawannya yang mayoritas muslim. Namun, Tan Kat Sun memiliki sedikit masalah dengan anaknya Ping Hen (Hendra) yang bersikap seenaknya sendiri dan enggan untuk meneruskan jejak ayahnya mengelola resto keluarga sampai pada suatu saat dimana segalanya berubah.

Dan sebagai tokoh sentral, Menuk lah yang juga memberikan keterkaitan dengan keluarga Rika melalui persahabatan di antara keduanya. Rika yang mendapat cemooh dari banyak orang karena langkah yang diambilnya untuk berpindah agama tidak mau memaksakan kehendaknya kepada anak semata wayangnya, Abi. Hal ini bisa dilihat dalam keseharian Rika selalu mengantarkan Abi untuk pergi mengaji di masjid, membibingnya untuk berpuasa dan beberapa perilaku keagamaan lainnya. Di sisi lain, Surya yang medekati Rika selalu mendukung keputusan Rika ditengah hujatan sekitar. Rika pun menyambut baik tingkah laku Surya dengan membantunya mencarikan peran dalam sebuah drama Paskah di gereja tempatnya beribadah. Alih-alih mendapatkan peran kecil sebagai figuran seperti yang selalu didapatkannya, kali ini Surya mendapatkan sebuah peran utama yang ternyata menjadi sebuah masalah tersendiri baginya sebagai seorang Yesus.

Berangkat dengan ekspektasi mengenai seberapa obyektif Hanung memaparkan pluralisme yang diangkatnya, saya dibawa takjub dengan scene pembuka yang menunjukkan begitu banyak umat yang sedang beribadah di berbagai tempat peribadatan. Selain itu, hingga mendekati pertengahanpun hanung masih memberikan begitu banyak perilaku ibadah di dalam film ini, tidak jarang saya temui orang sholat, mengaji, atau semacam sebuah kelas malam untuk mengenal Tuhandi gereja bersama Pendeta sebelum prosesi pembaptisan. Dengan Paskah, Ramadhan, Idul Fitri, dan Natal sebagai penanda waktu dalam satu tahun, “?“ seolah memberikan porsi yang sama kepada masing-masing agama dengan menunjukkan bagaimana semestinya sebuah sikap toleransi itu berlangsung dan dapat diwujudkan.

Pun pada pembangunan konflik yang dikaitkan dengan penanda waktu tersebut, Hanung memberikan jatah secara bergantian pada setiap keluarga dengan masalahnya masing-masing. Dimulai dengan keluarga Rika dengan intensitas yang cukup besar pada konflik pribadi Rika akan pilihannya yang menyisakan kebimbangan. Berhubungan dengan keluarga ini, Surya yang melalui Rika mendapatkan peran sebagai Yesus mulai merasakan konflik batin akan keyakinannya sendiri. Dirinya yang seolah belum siap akan perannya tersebut harus bergulat untuk kembali meyakini bahwa langkah yang ditempuhnya bukanlah sebuah kesalahan selama ia masih tetap meyakini Tuhannya. Dengan keunikan dan masalah yang sebenarnya banyak terjadi di sekitar kita,  Konflik inilah yang menjadi favorit saya meskipun sebenarnya saya kurang merasa puas dengan konflik yang ditawarkan, merasa kurang dan sepertinya masih ada sisi yang harus digali untuk dijadikan sebuah konflik yang wah.

Seolah menyelesaikan kebimbangan Rika dan mengulur-ulur apa yang terjadi pada Surya dengan menambahkan beberapa konflik batin lain, “?“ mulai memasuki babak baru dengan menyentuh apa yang terjadi pada Soleh dan Menuk. Masalah yang sebelumnya telah disinggung secara malu-malu saat porsi Rika-Surya dimainkan ini mulai dibawa ke permukaan. Dengan Idealisme Soleh akan pandangannya yang memandang bagaimana mestinya seorang suami yang harus membahagiakan istri dan tidak membiarkan sosok kepala rumah tangga hanya bertumpu pada penghasilan istri, Ia sempat melontarkan keinginannya untuk bercerai kepada Menuk hingga pada akhirnya sebuah pekerjaan didapatkannya meskipun dengan taruhan nyawa, menjadi seorang banser NU. Dari sinilah kekhawatiran Menuk mulai muncul atas keselamatan suaminya dengan pekerjaan barunya yang ternyata belakangan diketahui menyimpan sebuah rasa cemburu kepada Hendra yang sebelumnya sempat menjalin hubungan dengan Menuk jauh hari sebelum Menuk memutuskan untuk memilih Soleh.

Memasuki babak akhir, penonton mulai digiring menuju penyelesaian kasus di keluarga ketiga. Yah, di sinilah obyektivitas yang sempat saya singgung diatas mulai terasa pincang. Jika di dua keluarga sebelumnya karakter dihadapkan dengan masalah dan issue agama berikut dengan momen-momen keagamaan sebagai penanda waktu, alih-alih melakukan hal yang sama Hanung malah menyajikan sebuah konflik yang berdasarkan atas cinta, emosional, dan rasa sakit hati Hendra yang disebabkan oleh keputusan Menuk memilih Soleh yang tanpa pekerjaan hanya karena dia seorang muslim. Atas dasar masalah inilah Hendra kemudian bersikap acuh dan menjadi “liar“ bahkan terhadap orang tuanya sendiri, Tan Kat Sun. Dengan pilihan yang belum sepenuhnya mantab, Hendra mengambil alih kepemimpinan resto dengan bersikap menjadi bos yang hanya berfikiran bisnis tanpa memperhatikan apa yang telah ayahnya bangun, termasuk merusak semua peraturan-peraturan ayahnya yang terkait dengan toleransi sebagai wujud kecemburuan dan rasa sakit hatinya hingga masalah lain timbul sebagai akibat kecerobohan ulah Hendra.

Meskipun mungkin ada beberapa pihak yang merasa tidak menemui apa yang menjadi ekspektasinya atas masalah yang begitu kompleks ditawarkan di dalam sinopsis, “?“ dengan balutan masalah perbedaan keyakinan yang berujung pada konflik pribadi masing-masing akan keyakinan cukup ampuh mengantarkan satu per satu dari karakter ini pada sebuah keputusan akan pilihan hidup yang harus diambil. Seperti halnya Hanung yang pada akhirnya memutuskan untuk memilih menyelesaikan “?“ dengan memberikan solusi pada setiap masalah yang dihadapi oleh para lakonnya secara berani dan menutup segala kemungkinan atau pikiran-pikiran yang mungkin akan timbul atau terjadi sebagai suatu interpretasi lain dalam sebuah tanda tanya.

The Sandsrate: 4/5

Credits:

Director: Hanung Bramantyo

Writer: Titien Wattimena

Casts: Reza Rahadian, Revalina S. Temat, Agus Kuncoro Adi, Endhita, Hengky Solaiman, Rio Dewanto

About ardnas20

an Instrument Designer who loves Movie, Music, and Photography...

Discussion

3 thoughts on “? [Indonesia|2011]

  1. Saya suka nih film. Asal gak salah mengartikan makna tersiratnya, sebenernya malah ngajarin saling menghargai dan bukannya pluralisme.
    Anehnya Indonesia tuh film ancur diprotes, film keren diprotes juga😛

    Posted by Movfreak | April 24, 2011, 10:17 am
    • saya juga suka film ini🙂
      Sebenernya maksud saya juga gitu, Mau tidak mau, dalam film ini memang kita harus mengakui bahwa sebenarnya ada perbedaan di lingkungan kita kan?
      dan dalam film ini pula lah bagaimana sebuah toleransi dan sikap saling menghargai itu sejatinya bisa terwujud atas pluralisme yang ada.

      hahahhaa, iya juga ya. trus film seperti apa yang tidak diprotes?😀

      Posted by ardnas20 | April 25, 2011, 12:50 am
  2. I like reading an article that will make men and women think.
    Also, thanks for allowing for me to comment!

    Posted by Weight Loss Sacramento | August 16, 2014, 12:24 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: