//
you're reading...
Movies

Des Hommes Et Des Dieux / Of Gods and Men [France|2010]

Bukan hanya di negara kita tercinta ini, Indonesia, Tuhan menciptakan manusia dengan suku, agama, ras dan etnis berbeda-beda. Di belahan bumi manapun  atau bahkan di seluruh dunia ini pun Tuhan tidak memberikan kesamaan mutlak pada seseorang, kelompok, komunitas, dan koloni. Selalu saja ditemui aspek dalam hidup yang berbeda, hanya saja bagaimana setiap manusia dengan keberagamannya itu bisa saling menghargai dan hidup saling berdampingan untuk mewujudkan suatu kebersamaan sebagai langkah awal terciptanya sebuah kedamaian.

Seperti halnya apa yang terjadi di sebuah perkampungan kelas menengah ke bawah di pegunungan Maghreb, Atlas, tahun 90-an. Hidup di sana delapan biarawan asal Perancis di sebuah Biara yang berdiri kokoh di tengah-tengah masyarakat muslim kroasia, sang penduduk asli daratan tersebut. Brother Christian, pemimpin biara yang sangat menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi, bersama ketujuh biarawan lainnya bertekat mengabdi menjadi Martir dan menetap sekaligus untuk saling membantu serta menolong saudara-saudaranya melalui sebuah pusat kesehatan di dalam biara.

Melalui arahan Xavier Beauvois sebagai sutradara, kisah kerukunan beragama di tanah eropa ini diceritakan kembali melalui sebuah film dengan judul Of Gods and Men atau yang lebih dikenal dengan Des Hommes Et Des Dieux di Negara asalnya, Perancis. Melalui pendekatan spiritual dan kemanusiaan bonus bumbu politik, Xavier pada akhirnya berhasil mengeksekusi film dengan durasi 120 menit ini menjadi sebuah film yang kaya akan makna toleransi, kerukunan dan keimanan.

Yah, kerukunan antar umat beragama menjadi pondasi utama film berjalan di menit-menit awalnya. Disuguhkan dalam nuansa sepi dan hening yang membawa hikmat, disana ditunjukkan bagaimana sikap toleransi, saling menghargai dan menghormati satu sama lain bahkan dalam acara-acara keagamaan sekalipun. Seperti apa yang dilakukan Brother Christian misalnya, dalam satu kesempatan Ia mendatangi upacara khitanan salah satu warga yang digelar dengan tata cara Islam lengkap dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an di dalamnya, disana Ia tampak bahagia dan berbaur seolah tidak ada perbedaan yang begitu mendasar di antara mereka.

Kalimat Inshaallah tak jarang terucap dari bibir Christian, kalimat yang identik dengan umat Muslim itu terlihat fasih dilafalkan olehnya dan serta merta menunjukkan bagaimana hubungan masyarakat beda agama ini berjalan serasi nan indah. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, terselip juga adegan dimana Al-Qur’an menjadi salah satu dari banyak tumpukan buku di meja Christian, dan bahkan tak ragu-ragu dibuka olehnya saat ia membutuhkan referensi atau kebingungan akan sesuatu di tengah aktivitas di meja kerjanya.

Selain menunjukkan hubungan horizontal kepada sesama manusia, hubungan vertikal para martir ini kepada Tuhan mereka ditunjukkan sebagaimana harusnya hal itu berjalan. Hubungan yang begitu dekat, taat, dan begitu patuh pada Tuhan dan ajarannya. Diperlihatkan melalui begitu seringnya mereka berdoa bersama pada setiap masalah yang mereka hadapi dalam kesehariannya. Semakin sering mereka menemui  masalah, semakin kacau keadaan di luar, atau semakin keras tekanan militansi kelompok fundamentalis dan militer pemerintahan negara yang korup maka akan semakin sering mereka berdoa dalam barisan yang juga semakin rapat.

Dari sinilah konflik mulai terkuak sedikit demi sedikit. Bukan karena masalah perbedaan agama atau keberagaman yang ada antara Martir dan penduduk sekitar dalam kaitannya dengan toleransi, namun lebih karena bagaimana krisis iman yang harus mereka hadapi selama perang sipil Aljazair. Antara harus memilih tetap tinggal bersama keyakinan hati untuk mengabdi kepada Tuhan sesuai janji mereka sebagai martir namun juga harus berhadapan dengan rasa ketidaknyamanan karena tekanan militer dan milisi di luar atau kembali ke perancis untuk hidup normal dan bahagia bersama keluarga mereka.

Di sinilah Xavier mulai menyorot satu per satu martir dengan konflik dan masalah yang mereka hadapi dan memberikan ruang untuk sebuah fokus perbedaan pendapat antar martir. Dalam fase ini pula lah intensitas gejolak perang batin para martir, tak terkecuali sang pimpinan, Brother Christian, semakin ditunjukkan. Yah, di sini kita akan diajak untuk turut merasakan apa yang mereka rasakan, melalui sikap yang dilakukan para martir yang sering menyendiri, berdoa, dan bahkan menangis.

Sampai pada akhirnya, Of Gods and Men mengakhiri semua dengan sebuah adegan dramatis nan megah di suatu malam melalui lantunan Tchaikovsky’s Swan Lake yang terdengar dari radio tua, dimana mereka berkumpul untuk minum anggur bersama, saling melepas keraguan dan meletakkan keyakinan pada satu sama lain, tersenyum seakan mereka siap atas apapun yang akan terjadi seolah ini adalah apa yang dialami Yesus bersama para muridnya yang lebih dikenal dengan perjamuan terakhir atau Last Supper sebelum semuanya benar-benar berakhir tragis.

Credits:

Director: Xavier Beauvois

Writers: Xavier Beauvois (adaptation) (dialogue), Etienne Comar (scenario)

Casts: Lambert Wilson, Michael Lonsdale, Olivier Rabourdin, Philippe Laudenbach

About ardnas20

an Instrument Designer who loves Movie, Music, and Photography...

Discussion

3 thoughts on “Des Hommes Et Des Dieux / Of Gods and Men [France|2010]

  1. wah kk san akhirnya update juga! haha pengen nntn film ini deh, tapi gak jadi2 melulu :p

    Posted by Fariz | August 23, 2011, 5:05 am
  2. salam kenal,
    aq blogger baru. jangan lupa mampir, ya…🙂

    Posted by haranreymond | October 23, 2011, 11:13 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: