//
you're reading...
Movies

Movie Review: Sang Penari [Indonesia|2011]

Legenda akan sesuatu hal memang terasa unik dan selalu menarik untuk didongengkan atau diceritakan kembali secara turun menurun. Bukan hanya untuk mengingatkan kembali akan suatu memoar, namun penceritaan kembali sebuah legenda juga akan dapat mempertahankan kelestarian cerita rakyat tersebut lengkap dengan budaya dan hal-hal yang tersirat di dalamnya. Seperti halnya Ronggeng, saya yakin bahwa sudah banyak orang tau atau setidaknya mendengar kata tersebut sebagai sesuatu yang begituIndonesia. Yah, Ronggeng merupakan sebuah kesenian rakyat tentang seorang penari yang akan menghibur penduduk desa suku jawa jaman dahulu pada malam hari. Tapi, apakah hanya sebatas itu?

Terinspirasi dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad Tohari, Ifa Isfansyah yang sebelumnya dikenal lewat Garuda Di Dadaku (2009) dan Percakapan Ini, salah satu segmen di omnibus Belkibolang (2010), kembali duduk di bangku sutradara untuk mengangkat legenda penari ronggeng ini ke ranah film. Dengan dukungan Salman Aristo dan Shanty Harmayn bersama Ifa sendiri tentunya yang menulis naskah, film ini kemudian benar-benar dibuat melalui sentuhan gambar-gambar cantik khas Yadi Sugandi dan diiringi gubahan music score oleh duet Aksan-Titi Sjuman untuk selanjutnya diperkenalkan sebagai Sang Penari.

Bercerita mengenai kisah cinta dua anak manusia, Rasus dan Srinthil, Sang Penari mengawali kisahnya pada tahun 1953 saat mereka berdua masih sangat belia di kampung yang kecil dan miskin, Dukuh Paruk. Di sinilah ronggeng menjadi sesuatu hal yang sangat diagungkan dengan kepercayaan magisnya sebagai suatu warisan yang harus dilestarikan sekaligus persembahkan kepada leluhur kampung di setiap pertunjukannya. Begitu pula dengan sang penari ronggeng, penduduk kampung percaya bahwa tidak semua orang bisa menjadi penari ronggeng, karena diyakini bahwa leluhur mereka sendirilah yang akan memilih dan menentukan siapa titisannya. Srinthil, dengan kemampuan menari yang magis, kemudian membuat para tetuah Dukuh Paruk percaya bahwa dirinya adalah titisan ronggeng.

Bermula dari sini Sang Penari selanjutnya membawa kita untuk lebih mengenal tentang apa dan bagaimana sebenarnya ronggeng itu dijalankan, dilestarikan, dan bahkan diagungkan. Bagaimana tugas, kewajiban, dan tanggung jawab seorang ronggeng yang tidak mudah, juga pengorbanan akan kepentingan pribadinya yang ia lakukan demi menjadi seorang penari ronggeng sebagai dharma baktinya untuk orang tua, orang-orang di sekitar dan terutama nama baik Dukuh Paruk. Yah, karena memang menjadi ronggeng tidak hanya berarti menjadi pilihan dukuh di pentas-pentas tari, namun juga akan menjadi milik seluruh warga Dukuh.

Keadaan memperihatinkan yang harus dialami Srinthil sebagai ronggeng ini menempatkan Rasus pada sebuah kegalauan, dimana ia merasa cintanya telah dirampas secara paksa tanpa perlawanan. Hingga akhirnya di dalam keputusasaan, ia meninggalkan dukuhnya untuk menjadi anggota tentara. Film ini kemudian bergerak ke dalam situasi yang semakin rumit, tentang bagaimana perasaan Srinthil yang lambat laun merasa bahwa apa yang ia jalani bukanlah apa yang ia inginkan dan bertentangan dengan hasratnya untuk hidup bersama Rasus. Apalagi zaman telah berubah ke masa-masa kelamIndonesia, saat banyak orang-orang tak bersalah menjadi korban untuk kepentingan golongan tertentu dengan hanya iming-iming makan.

Tahun 1965, jaman benar-benar telah berganti dan serta-merta membawa Dukuh Paruk pada satu tingkat lebih maju dalam sektor pembangunan dan kesejahteraan namun tidak pada sumber daya manusia, dalam arti bahwa semua yang nampak dari luar hanyalah sebuah fatamorgana atas hasil akhir dari kepentingan segelintir orang yang dengan sukses memperdaya warga Dukuh Paruk. Di saat inilah Rasus kembali ke dukuhnya dengan sebuah dilema yang memaksanya memilih antara loyalitas sebagai wujud dharma bakti kepada negara atau cintanya kepada Srinthil. Dalam fase penceritaan inilah Sang Penari terlihat begitu berani mengusik kembali sejarah kelam Indonesia kala itu dimana kemiskinan, ketidaktahuan, dan keinginan untuk hidup menjadi sebuah ladang pembodohan masal yang akhirnya berujung pada kekerasan yang tragis nan mengenaskan.

Dengan skenario yang tanpa menyebutkan kata “cinta”, “sayang”, atau sejenisnya di sepanjang film, Sang Penari sukses membuat saya menari di paruh awal film diputar, menikmati bagaimana mitologi dan segala sesuatu yang baik dan buruk tentang ronggeng dipaparkan. Sampai pada suatu titik saya tersadar bahwa ini adalah sebuah film tentang kisah cinta. Dan dari sinilah saya benar-benar menyadari bahwa cinta itu bisa jauh lebih berarti jika diungkapkan dengan perasaan yang tulus, pengorbanan, serta juga sikap dan perilaku tanpa harus mengucapkannya.

Credits:

Producer: Shanty Harmayn

Director: Ifa Isfansyah

Writers: Salman Aristo, Shanty Harmayn, Ifa Isfansyah

Casts: Nyoman Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Hendro Djarot, Happy Salma, Teuku Rifnu, Tio Pakusadewo, Lukman Sardi

About ardnas20

an Instrument Designer who loves Movie, Music, and Photography...

Discussion

20 thoughts on “Movie Review: Sang Penari [Indonesia|2011]

  1. Makin pnasaran ja ma ni filmmmm……
    love dah ma film indonesia.
    smga film akhir tahun yg satu ini brhasil mencapai 1 jt penonton…..

    Posted by arif kusman (@AyeppBerunTung) | November 4, 2011, 2:42 am
  2. Bagus film indonesia udah mulai bangkit😀
    Tukeran link dong om

    Posted by bagusxfantasy | November 4, 2011, 3:57 pm
  3. semoga jauh dari gambaranku, aku mikirnya film ini macam arwah goyang karawang

    Posted by didi | November 5, 2011, 9:15 am
  4. Jadi penasaran😉

    Posted by astarie | November 8, 2011, 9:12 am
  5. baru aja nonton tadi
    very good movie
    rasanya udah lama sekali liat film indonesia yang benar2 serius dan bagus
    salut buat oka antara
    terus terang tadinya saya kira dia ngga lebih dari sekedar another pretty face among indonesian celebrity circle tapi he turned over a new leaf dalam film ini. I wouldn’t be surprised if he would secure a nomination for best actor in indonesian film festival come movie festival next year
    but it is prisia yang bikin saya kagum
    bukan saja dia perfectly cast, prisia really inhabits her character
    she really embodies the soul of a dancer in this movie
    very impressive
    the next dian sastro? or even mbak christine hakim yang sangat saya idolakan?
    she may well be kalau dia bisa hati2 memilih script in her future endeavors
    prisia dan oka sangat beruntung dengan cerita yang sangat bernas dan bagus; menantang terutama kalau diingat mereka bukan berasal dari kultur itu sendiri

    Posted by tp simanungkalit | November 12, 2011, 4:28 pm
    • setuju!!!
      saya menjagokan Prisia Nasution buat pemeran utama wanita terbaik FFI 2011. meskipun ini debut film layar lebar pertamanya, dia seakan benar2 bisa membuktikan bahwa dia bukan hanya jago akting di FTV.
      yup, Oka dari Bali dan Prisia dari Batak, benar2 jauh dengan apa yang mereka perankan sebagai Rasus dan Srinthil yang notabene adalah orang jawa ngapak. keren!!!

      Posted by ardnas20 | November 12, 2011, 4:58 pm
  6. Film yang aku tunggu2 puluan tahun akhirnya jadi juga. th.1986 dan th.2001aku baca novelnya dan langsung penasaran bila difilmkan akan spt apa ya.. dan akhirnya..
    Awal2 filmnya terasa asyik ditonton, tetapi selanjutnya kok jd bingung nontonnya, krn kurang bisa menceritakan dengan jelas maksud film ini, (temen2 yg ikut nonton disebelah banyak nanya terus krn nggak paham). Untung aja udah baca novelnya jd agak paham dikit2 (walau udah banyak yg lupa), gimana yang nggak baca novelnya ya.. banyak bahasa di novel yang kurang bisa diterjemahkan ke film apalagi endingnya.. tp secara keseluruhan cukup baguslah.

    Posted by andre | November 14, 2011, 2:58 am
    • wah saya gak baca novelnya loh, tapi saya sangat menikmati tuh🙂
      tapi kan emang kru film ini juga udah memberi batasan bahwa Sang Penari ini bukan film adaptasi, tapi hanya terinspirasi dari 3 buku itu. jadi sepertinya emang wajar kalo ada beberapa part yang gak sama. IMHO

      Posted by ardnas20 | November 17, 2011, 11:37 am
  7. semoga film ini gak kayak film2 Indonesia yang sebelumnya..

    miris melihatnya..

    Posted by Download Free Movie Anime | November 17, 2011, 8:06 am
  8. A must see. Tapi sampai sekarang belum nonton juga. Masih belum sempat. Kalau dari trilernya sih kayaknya bagus. Semoga emang bagus.

    Posted by deburhan | November 27, 2011, 9:36 am
  9. aku udah pernah baca novelnya Ronggeng dukuh paruk. bagus sekali karya A Tohari….
    apa filmnya sebagus novelnya?..
    apalagi yg jadi srintil, prisia nasution….
    jadi pingin lht filmnya…

    Posted by arief wijaya | December 7, 2011, 5:09 am
    • wah kalo saya gak baca novelnya, jadi gabisa bandingin.
      tapi, sebenernya kru film ini udah ngasih batasan juga sih kalo Sang Penari itu bukan murni saduran, melainkan hanya sebatas terinspirasi. jadi ya mungkin ada beberapa part yang memang berbeda.
      segera ditonton deh mumpung masih ada di bioskop, gak akan nyesel.

      Posted by ardnas20 | December 8, 2011, 1:53 am
  10. Kekaguman saya selain pada sisi penyutradaraan juga kepada PRISIA NASUTION dan OKA ANTARA SERTA TOKOH-TOK CENTRAL lainnya yang notabenenya bukan dari kultur dimana cerita itu berjalan, namun mereka dapat nejiwai secara total baik dalam hal dialek banyumasan maupun acting mereka sesuai perannya…..bravo film Indonesia, sukses buat Sang Penari secara keseluruhan !!!!!!

    Posted by purwanto bayangkara | December 8, 2011, 5:35 am
  11. betul sekali..ini lah film yang membahas cinta tanpa kata2 cinta..kejawen y pun ada.

    Posted by tirta | December 2, 2012, 4:11 am
  12. kualitas ceritanya jauh berbeda dari trilogi novel aslinya.
    tapi untuk film yang “terinspirasi” bukan “adaptasi” it’s okey laah.
    setidaknya berarti untuk saat ini belum ada “film asli” yang berdasarkan karya sastra ahmad tohari tersebut.

    Posted by Rianti | December 15, 2012, 6:29 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Movie Review: Pendekar Tongkat Emas / Golden Cane Warrior (Indonesia, 2014) | Anything - December 21, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: