//
you're reading...
Movies

Movie Review: Pendekar Tongkat Emas / Golden Cane Warrior (Indonesia, 2014)

Still_Pendekar Tongkat EmasWaktunya telah tiba bagi Cempaka, seorang pendekar paling disegani dan dihormati dalam dunia persilatan yang kini telah menua, untuk mewariskan kepada salah satu muridnya senjata dan jurus mematikan tak tertandingi, Tongkat Emas. Namun pembunuhan dan penghianatan terjadi, pertarungan antara yang baik dan yang jahat pun tak dapat dihindari.

Adalah kolaborasi Mira Lesmana dan Riri Riza sebagai Produser dan Co-Producer, Jujur Prananto di penulisan naskah, dan Ifa Isfansyah yang duduk di bangku Sutradara di balik penggubahan sebuah plot sederhana dan cerita klise tersebut menjadi sebuah mahakarya luar biasa. Mereka tahu betul bagaimana harus mengemas film ini menjadi sebuah suguhan mewah berkelas yang akan memanjakan para penontonnya.

Yes, they work in the field they are good at. Mira Lesmana dan Riri Riza kembali mengenalkan kita pada keindahan bumi Indonesia, setelah mengeksplorasi Belitung (Laskar Pelangi), Atambua (Atambua 39° Celcius), dan Pedalaman Hutan Sumatra (Sokola Rimba), kini giliran landscape Sumbawa yang menjadi sorotan. Pendekar Tongkat Emas seolah menjadi sarana pengenalan eksistensi tanah, laut, dan kebudayaan lokal warganya. Sepanjang film, kita akan dibuat takjub menikmati bagaimana Indonesia mempunyai surga tersembunyi bernama Sumba.

Sinematografi keindahan Sumba oleh Gunnar Nimpuno kemudian dipadukan dengan naskah yang mengandung dialog baku Bahasa Indonesia Jujur Prananto, membawa alur film yang terkesan lambat menjadi mengalir menyenangkan untuk dinikmati dan menyingkirkan kesan bosan. Oh iya, yang perlu diapresiasi di sini adalah bahwa  penggunaan bahasa baku dalam film dilafalkan dengan sangat baik oleh para pemain, jauh dari kesan kaku serta mengalir seolah dialog sehari-hari.

Dan yang paling penting adalah peran sang nahkoda. Ifa Isfansyah kembali membuktikan kepiawaiannya menyutradarai film dengan latar klasik setelah kesuksesan Sang Penari tiga tahun silam. Ifa mengarahkan adegan demi adegan senatural mungkin, membuat setiap adegan laga terlihat begitu nyata, dan membawa porsi drama yang pas tanpa harus melebih-lebihkan. Dan yah, final battle di bagian akhir film adalah yang terbaik. Ifa Isfansyah berhasil menyuguhkan fight scene berkelas dengan durasi yang tidak sebentar dan begitu menegangkan sebagai klimaks film. Eits, bukan berarti fight scene selain ini buruk. Percayalah, ini adalah salah satu film laga terbaik Indonesia.

Lalu bagaimana dengan pemilihan aktor dan aktris yang lebih mengedepankan popularitas ketimbang kemampuan bela dirinya? Hey, you should know that they made their every effort into this film. Christine Hakim, Reza Rahadian, Tara Basro, dan Nicholas Saputra memang sudah tak selayaknya diragukan lagi kemampuan aktingnya. Bahkan di scene laga pun mereka tampil selayaknya pendekar. Eva Celia pun tampil prima membawa alur film berjalan semestinya. Chemistry yang solid terbangun antar satu sama lain membuat karakter dalam film ini makin terkesan hidup. Namun siapa sangka jika Aria Kusumah, aktor cilik pendatang baru pemeran Angin, mampu mencuri perhatian? Yeah, Dia menunjukkan akting terbaik di setiap adegannya terlebih saat adegan laga. He is the scene stealer!

Pendekar Tongkat Emas melahirkan kembali genre laga silat klasik di perfilman Indonesia yang lama tak terjamah oleh sineas-sineas kita di era kebangkitan perfilman nasional setelah mati suri, seolah membawa kembali masa kejayaan film-film klasik kita serupa Si Buta Dari Gua Hantu (1970), Jaka Sembung (1981), atau Saur Sepuh (1987). Bagaimana tidak? Penggunaan tata bahasa baku, setting lokasi dunia persilatan di pedesaan jauh dari riuh modern, kostum dan make up khas pendekar, dan semua elemen pembentuk film ini membuat kita merasakan kembali feel akan film-film klasik tersebut tatkala menonton. Sebuah pencapaian luar biasa, Bangga Film Indonesia!

Pendekar Tongkat Emas - The Golden Cane WarriorPendekar Tongkat Emas / Golden Cane Warrior
Producer: Mira Lesmana
Co. Producer: Riri Riza
Director: Ifa Isfansyah
Writers: Jujur Prananto, Mira Lesmana, Riri Riza, Ifa Isfansyah
Casts: Christine Hakim, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Tara Basro, Eva Celia, Aria Kusumah, Landung Simatupang, Slamet Rahardjo, Darius Sinathrya, Prisia Nasution.

About ardnas20

an Instrument Designer who loves Movie, Music, and Photography...

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: